Rabu, 28 November 2012

Jeritan Al-Quds yang Tertahan



Dr. Muhsin Shalih
Direktur Pusat Studi Az-Zaitun
Hari-hari ini adalah saat mengenang 82 tahun revolusi Al-Barraq yang meletus dalam membala tembok pagar barat masjid Al-Aqsha dan juga peringatan 42 pembakaran masjid suci tersebut.
Membela Al-Quds dan Al-Aqsha selalu menjadi isu bersama umat Islam meski aliran dan madzhab berbeda. Menekan Al-Quds berarti menekan syaraf paling sensitif di tubuh umat yang bisa menyulut emosi dan harga dirinya.
Pasca revolusi Al-Barraq, perwakilan kaum muslimin dari 22 negara berkumpul di konferensi umum Islam di Al-Quds tahun 1931 untuk membahas cara menjaga dan mempertahankan Al-Aqsha, Al-Quds dan Palestina. Setelah pembakaran masjid Al-Aqsha, perwakilan negara-negara Islam berkumpul dan membentuk OKI yang mewakili hingga sekarang lingkup dunia Islam yang beranggotakan 56 negara.
Ketika Sharon menggelar kunjungan pelecehan ke Masjid Al-Aqsha 28 September 2000, meletusnya api Intifada Al-Aqsha yang berlangsung selama sekitar 5 tahun dan diikuti oleh dukungan dunia Islam dan Arab secara menggemparkan.
Konferenssi Umum Islam meredup dan Organisasi Konferensi Islam berubah hanya menjadi perayaan seremonial yang hanya mengeluarkan sikap kecaman dan pernyataan semata dan beberapa tindakan yang takut yang tidak layak bagi kedudukan Al-Quds dan tidak layak bagi peran dunia Islam. Intifada pun terhenti.
Penjajah Israel tetap bercokol. Aksi yahudisasi, ekspansi pemukiman, dan aksi perampasan wilayah Palestina terus berlanjut. Warga Al-Quds sendirian memegang bara api. Teriakan-teriakan Al-Quds dan rintihan Al-Aqsha pun semakin mendidih. Namun teriakan dan rintihan itu menjadi tertahan yang tidak didengar oleh siapapun. Seakan orang terbiasa dengan rintihan dan tidak menjadi berita penting, penyulut emosi, atau pendorong.
Mungkin setelah lebih dari 63 tahun penjajahan Al-Quds dan 44 tahun penjajahan Al-Quds timur, bangsa Arab dan umat Islam tertimpa pesimistis. Banyak orang mungkin terbiasa dengan berita-berita yang sama yang mengenaskan tentang Al-Quds untuk jangka panjang. Barangkali sebagian kita lainnya disibukkan oleh masalah-masalah lokal dan regional. Mungkin sebagian lagi mengecam perpecahan di Palestina. Atau sebagian besar orang kini disibukkan dengan revolusi Arab dan segala implikasinya.
Barangkali faktor ini atau sebagiannya yang menjadikan jeritan Al-Quds tertahan. Namun yang terpenting bahwa semua pihak harus menyadari bahwa proyek zionis untuk yahudisasi Al-Quds terus berjalan dengan sangat intens dan terorganisir. Mereka akan menciptakan status quo-status quo baru di lapangan dan berusaha membuat gambaran manipulatif baru terhadap Al-Quds yang bertentangan dengan identitas Al-Quds sebagai milik Arab dan Islam. Jeritan Al-Quds sesunguhnya sangat keras namun telinga umat Islam tertutup oleh tanah lumpur dan adonan.
Al-Quds Barat
Kebanyakan orang sudah tidak ingan dengan Al-Quds barat yang oleh PLO diakui sebagai bagian dari Israel sesuai kesepakatan Oslo dan tidak lagi menjadi bagian dari proses perundingan. Rintihan Al-Quds barat tertahan dan berulang-ulang sejak dijajah oleh Israel tahun 1948 dan diusirnya 60 ribu lebih warga Arab Palestina dari sana; dari perkampungan Makmanullah, Buqa’ Faoqa, Buqa’ Tahta, Qathmun, Thalibah, Misrata, kolonial Jerman, kampung Yunani, dan bagian dari Abu Thour dan kampung Tsauri.
Palestina memiliki hanya 88,7% dari total wilayah Al-Quds barat yang diyahudikan oleh Israel, dibangun pemukiman yahudi di atasnya, dan di atas desa-desa Arab yang disita Israel seperti desa Lafta yang dibangun di atasnya gedung parlemen Israel Knesset dan sejumlah gedung kementerian, serta desa-desa Ain Karem, Deer Yasen, Malihah dan lain-lain.
Al-Quds Timur
Tahun 1967 Israel melengkapi penjajahan kepada Al-Quds timur yang saat itu berada di bawah wewenang Jordania yang dianggap sebagai bagian dari wilayah Tepi Barat. Sejak saat itu, mulailah kampanye dan aksi yahudisasi yang begitu ganas terhadap Al-Quds timur.  Maka diumumkanlah penyatuan dua batas Al-Quds di bawah pemerintahan Israel pada 27 Juni 1967 dan secara resmi pada 30 Juli 1980 diumumkan bahwa Al-Quds adalah ibukota satu abadi Israel.
Negara Israel meletakkan kekuasaannya pada 87,5% wilayah Al-Quds timur. Dibangunlah di sana permukiman yang meliputi Al-Quds timur dari seluruh penjuru dan menghalangi warga Palestina untuk membangunan di sebagian besar wilayah Al-Quds dan tidak tersisa kecuali 9 ribu acre saja (dari 72 ribu acre) untuk lahan bangunan atau 12,5% dari luas Al-Quds timur.
Israel langsung membangun pemukiman Israel pertama di Al-Quds timur, Ramat Eshkul sejak tahun 1968, kemudian diikuti secara cepat pemukiman penjajah lainnya. Akhirnya wilayah Al-Quds timur dikurung oleh 11 isolasi hidup yahudi. Di sekitar Al-Quds total ada 17 pemukiman yahudi untuk memutus kota suci ini dari wilayah sekelilingnya. Sehingga jalan menuju penyelesaian damai yang bisa mengembalikan wilayah Al-Quds ke tangan Palestina sudah diputus Israel.
Sementara tembok pemisah – yang sedang diselesaikan benar-benar mengurung dan mengelilingi Al-Quds – bertujuan untuk mengisolasi kota suci Al-Quds dari wilayah sekelilingnya dari Arab dan Islam. Tembok itu berkelok-kelok hingga sepanjang 167 km. Berdasarkan laporan, 231 ribu warga Palestina atau 56% dari warga Al-Quds terkena imbas buruk dan negatif dari pembangunan tembok rasial itu. Jika tembok rampung benar-benar maka ada 617 situs suci dan peninggalan peradaban Islam akan diisolasi Israel dari wilayah Arab dan Islam.
Tahun 2009, Israel melaunching kampanye yahudisasi nama-nama ribuan tanda dan simbol situs-situs peninggalan di Al-Quds. Kampanye aksi ini terus berlanjut untuk menciptakan status quo yahudi di kota suci ini dan mencabik simbol-simbol Arab dan Islam serta membuangnya.
Sebagai contoh, nama jalan Wadi Halwah sebelah selatan Masjid Al-Aqsha diubah Israel menjadi jalan Maaleh David, Wadi Rababah menjadi Jay Hanom. Tahun 2009 menjadi perkembangan sangat berbahaya bagi proyek yahudisasi di Al-Quds timur. Nama-nama berbau Israel sudah menggantikan nama-nama Arab di peta online di Wikimapia dan Google, termasuk Masjid Al-Aqsha sudah berubah menjadi Bukti Sinagog dan bukan Masjid Al-Aqsha atau Al-Haram Asy-Syarif.
Baldah Lama (Kota Tua) di Al-Quds
Pada 11 Juni 1967, pasukan Israel mengusir warga Al-Magaribah di Kota Tua yang luasnya tidak lebih dari 1 KM2 setelah ada peringatan untuk keluar. Kemudian diikuti penggusuran 135 rumah di kampung yang berhadapan langsung dengan pagar barat Masjid Al-Aqsha (tembok Al-Barraq), yang sebagian besar adalah wilayah wakaf Islam. Dalam perundingan, wilayah itu disepakati diguanakan yahudi untuk tujuan ritual. Israel juga menguasai kampung Asy-Syaraf atau disebut kampung yahudi di kota lama di Al-Quds. baca selanjutnya : http://www.infopalestina.com

0 komentar:

Posting Komentar